Startup: Dilema Pendanaan VS Mencari Investor Langsung

0

Silicon Valley sukses membuat dunia berkiblat padanya. Wilayah kelahiran raksasa bisnis Google dan Microsoft juga dikenal sebagai wilayah tempat bermunculan usaha-usaha baru yang terinspirasi dari kemilau sukses dua pemimpin bisnis ini.

Apa yang membuat keduanya berhasil menggelegar? Inovasi yang berkelanjutan.

Konsistennya iklim start up di wilayah Silicon Valley membuat bisnis yang sudah ada harus bertahan dengan munculnya berbagai usaha baru. Mereka harus menyesuaikan diri dengan berbagai tren yang tidak ada pernah gitu-gitu aja polanya. Para penggerak usaha rintisan ini punya kekuatan yang membuat mereka tidak berhasil gulung tikar meski dihadapkan pada berbagai tantangan dan perubahan: kuatnya tekad dan kecocokan antara bisnis dengan passion.

Bagaimana dengan Fenomena Start Up di Indonesia?

Berita bagusnya, fenomena ini akhirnya mulai banyak dilirik muda-mudi Indonesia, sebagian warga dunia yang terkenal sebagai konsumen paling menyenangkan untuk bisnis APAPUN. Kehadiran GO-Jek sebagai start up yang terbilang sukses untuk dijadikan panutan semakin membakar semangat para pemuda negeri untuk mulai membantu kerajaan mereka sendiri. Terbukti, pada tahun 2016 lalu, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah bisnis rintisan tertinggi di wilayah Asia Tenggara, yaitu sekitar 2.000 bisnis baru.

Memang harus kita akui kalau tidak semua bisnis baru ini berjalan sesuai harapan: terus tumbuh dan berkembang, berhasil mempekerjakan orang, atau bermimpi menyumbangkan gross domestic product bagi Indonesia. Kenapa nih? Yah, seperti kata Charles Darwin, “Bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan.” Masih banyak dari kita yang belum mampu menjadi fleksibel mengikuti dinamika zaman. Hasilnya, gagal di tengah jalan.

Well, jangan lantas melimpahkan semua penyebab kegagalan itu pada kita juga. Kalau ditelaah lagi, selalu ada faktor luar yang kurang mendukung usaha kita. Bisa dibilang, faktor terkuat yang membuat kegagalan usaha itu berhasil adalah masalah pembiayaan.

“Bagaimana Kami Bisa Membiayai Usaha Kami?” – Pertanyaan Sejuta Umat Pendiri Bisnis Baru.

Semua bisnis butuh modal. Kita tidak perlu mengelak soal hal ini. Bahkan, untuk bisnis-bisnis yang (katanya) butuh modal nol Rupiah (baca: seperti jadi agen MLM atau reseller online shop sekali pun) tetap membutuhkan modal. Smartphone yang digunakan juga termasuk modal.

Alternatif paling ampuh pertama yang bebas risiko dan cepat untuk mendapatkan modal adalah dengan cara menjual asetmu. Jual aset adalah cara tercepat mendapatkan modal. Korbankan satu atau dua barangmu untuk dijual. Kamu dapat uang tunai tanpa ada kewajiban pembayaran utang dan bunga untuk beberapa waktu ke depan.

Terbilang cepat, memang, tapi jelas ada kekurangannya. Kalau kamu mendirikan usaha sendiri ditambah kamu tidak cukup ahli menangani dinamika dunia bisnis, tidak menutup kemungkinan kamu akan rugi dan harus menanggungnya sendiri. Sudah kehilangan aset, kehilangan bisnis. Kan sedih.

Jadi, daripada kamu harus menanggung semua risiko itu sendiri, lebih baik cari pinjaman.

P2P Lending: Alternatif Pembiayaan Masa Kini

Ada banyak macam jenis pembiayaan usaha yang ditawarkan, plus banyak juga pihak-pihak pembiayaan yang tidak hanya terdiri dari bank semata. Jika selama ini kamu sudah banyak makan asam garam soal cerita sulitnya mengajukan pinjaman ke bank, terutama untuk bisnis baru, maka terobosan peer-to-peer lending bisa jadi alternatifmu.

Peer-to-peer lending atau P2P Lending adalah metode mendapatkan pinjaman dari investor langsung. Investor akan menyimpan uang dalam sebuah platform yang mana platform ini akan menyalurkan dana investor kepada pengguna lain, yaitu para perintis usaha baru.  Yep! Konsep peminjaman ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari pengajuan pinjaman di bank. Hanya saja, bagi bisnis kecil atau baru menjadi lebih mudah mendapatkan dana karena mereka mendapatkan investor yang memiliki ketertarikan dengan jenis bisnis tertentu yang dianggap berpotensi berkembang pesat dan menguntungkan mereka.

Startup: Dilema Pendanaan VS Mencari Investor Langsung
Peer to peer lending

Penilaian para investor adalah kelayakan bisnis itu sendiri serta proyeksinya, bukan berdasarkan pengalaman masa lalu dan kemampuan si peminjam membayar utang. Muncul masalah baru. Sekarang kamu bertanya bagaimana bisa menemukan investor yang mau membiayai usaha barumu ini.

Lalu, bagi kamu yang belum terpikirkan mau punya bisnis baru tipe apa, coba deh lirik tren bisnis start up fintech yang lagi hits. Bukan bermaksud promosi, tetapi lebih kepada membantu para pendiri bisnis baru untuk lebih cepat mendapatkan pangsa pasar dan mengembangkan usaha. Bisnis Fintech atau Financial Technology sejatinya adalah inovasi di sektor jasa keuangan. Perpaduan antara teknologi yang terus berkembang dengan sektor keuangan yang tak pernah basi adalah ide bisnis yang luar biasa.

Seperti apa sih bentuknya bisnis fintech ini?

Pernah melakukan transaksi di McDonald’s dengan T-cash (Telkomsel) atau beli pulsa via Go-Pulsa (GO-Jek)? Nah! Itu adalah contoh sederhana bentuk penggunaan jasa bisnis fintech. Kehadirannya sering kali tidak disadari oleh pengguna itu sendiri. Kerap kali, bisnis seperti ini dianggap sebagai bentuk upgrade dari pembayaran dengan kartu debit dan kartu kredit.

Baca Juga: Kartu Kredit: Cara Mendapatkan serta Tips Bijak Menggunakannya

Konsumen bisnis fintech ini diuntungkan dengan berbagai hal. Pertama, tidak perlu lagi bawa uang tunai banyak di dompet. Kedua, karena transaksi dengan bisnis ini tergolong baru, banyak diskon yang bisa menjadi alasan agar orang menggunakan produk-produk bisnis fintech ini.

“Kalau tipe bisnis sudah oke, sekarang gimana cara kami mengajukan P2P Lending? Kemana kita harus berlabuh, Kak?”

Akhirnya sampai juga pada pertanyaan inti sejuta founder start up ini, yak.

Need to know kalau P2P Lending bukan sebuah program peminjaman yang disediakan bank-bank komersial. Jadi, jangan ngotot tetap mendatangi bank umum untuk menanyakan alternatif pembiayaan ini. Mereka tidak akan tahu. Kalau kamu berminat dengan alternatif pembiayaan non pinjaman bank, langsung cari perusahaan dengan platform pembiayaan sesuai kebutuhanmu. Kayak apa?

Kayak Kickstarter. Perusahaan pembiayaan yang berbasis di New York ini dikenal sebagai perusahaan dengan platform pembiayaan khusus untuk proyek-proyek kreatif semacam film, seni, desain, games, atau fotografi. Apa fungsinya kekhususan proyek di sini? Ya menemukan founder dengan investor yang satu hati. Ketika si pemberi dana sudah klop dengan proyek kreatif dari si peminjam dana, keberlangsungan usaha baru bisa lebih baik.

Nah, kalau untuk P2P Lending, perusahaan yang bergerak dengan fokus alternatif ini yang basisnya tidak terlalu jauh dari Indonesia adalah Crowdo. P2P Lending yang Crowdo jalankan adalah mempertemukan bisnis dan UKM lokal dengan komunitas investor global. Kalau Kickstarter fokus pada start up kreatif, Crowdo fokus pada bisnis kecil dan menengah alias UMKM.

Kenapa UMKM? Untuk negara berkembang sekelas Indonesia, UMKM adalah roda penggerak ekonomi negara. Meski labelnya kecil, UMKM (termasuk start up) terbukti menyumbang hampir 60% dari produk domestik bruto dan tercatat mempekerjakan setidaknya 97% warga Indonesia usia aktif kerja.

Startup: Dilema Pendanaan VS Mencari Investor Langsung
Tampilan website P2P Lending Crowdo

Crowdo ini bisa dibilang marketplace bagi bisnis dan investor. Perusahaan ini akan ‘mempertemukan’ para startuper dengan pemilik dana yang hendak diinvestasikan. Dalam hal ini Crowdo tentu lebih selektif dalam memilih startup yang ingin dibiyayai, sebagai proteksi ke investor yg ingin mendanai. Crowdo memfilter semua pengajuan pinjaman modal kerja berdasarkan dokumen standard perusahaan yang sudah jadi sebelum dipublish di website.

Jenis pinjaman yang diberikan Crowdo adalah pinjaman modal kerja. Jaminan yang diberikan bentuknya bisa beragam, mulai dari emas, invoice, purchase order juga mobil pribadi. Crowdo juga merupaka platform P2P lending yang sudah diregulasi di 2 negara yaitu Singapura dan Malaysia. Masalah keamanan tidak perlu diragukan, Di Indonesia sendiri, bisnis P2P akan berada langsung di bawah pengawasan OJK termasuk Crowdo.

Mendaftarkan diri sebagai investor lewat Crowdo tak melulu harus berstatus sebagai konglomerat. Berbeda dengan syarat pembelian saham di bursa efek yang menetapkan standar minimal beli dengan biaya yang tidak sedikit. Di Crowdo, investor bisa menyimpan dananya minimal Rp.1,000,000 di setiap pinjaman, jumlah yang relatif kecil dibandingkan pengeluaran anak kuliah zaman sekarang. Itu pun sudah bisa membantu para founder mendirikan dan mengembangkan usaha mereka.

Sedangkan untuk Bisnis yang butuh sokongan dana punya kesempatan dapat pendanaan sampai Rp 2 milyar. Kok bisa? Ya karena Crowdo sudah punya lebih dari 30.000 anggota, dengan persentase investor yaitu 50% investor asing, dan 50% lokal. Start up yang sudah didanai saja mencapai lebih dari 1000 proyek, kok. Masalah reliabilitas mah tidak perlu ditanya lagi.

Startup: Dilema Pendanaan VS Mencari Investor Langsung
Halaman untuk mengajukan pinjaman dana di website P2P Lending Crowdo

“Kok keren, kak? Prosesnya susah nggak?”

I doubt that. Tidak seperti pendaftaran sebagai anggota bursa efek yang butuh segala macam berkas pendukung dan kewajiban-kewajiban memantau harga saham. Investasi di Crowdo bisa jauh lebih mudah dan meringankan beban investor. Di saat bersamaan, para founder lebih cepat mendapatkan pendanaan untuk segera menjalankan usaha baru.

Alternatif inilah yang bisa jadi sasaran para pendiri start up. Kemudahan membangun start up yang tak hanya dari sisi bertemu dengan investor tetapi juga bagaimana tetap terhubung dengan mereka. Butuh dana investasi tambahan? Pasang ‘pengumuman’ saja via Crowdo Connect! Investor bisa melihat berdasarkan jenis bisnis yang mereka kehendaki. Satu lagi, semakin bisnismu terverifikasi dengan nilai baik (maksimal A+), semakin mudah kamu mendapatkan pendanaan.

Nah untuk kamu para pemilik UKM dan pelaku bisnis yang tertarik mencoba menggunakan platform Crowdo namun masih ragu, kami bisa melihat  prestasi dan pencapaian Crowdo selama 1 tahun terakhir lewat infografik di bawah ini.

Keren, ya? Semakin ke sini, semuanya jadi serba mudah. Bahkan untuk bisa menciptakan pendapatan bagi diri sendiri dan orang lain seperti bukan lagi sebuah mimpi yang terlalu besar. Kalau kondisinya serba mendukung seperti ini, jadi mau mbatin,

Ah, ternyata semudah ini jadi CEO untuk bisnis sendiri.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here